Berbagilah Lalu Berbahagialah


 Udara sudah semakin dingin karena embusan angin malam yang begitu dahsyat, sampai-sampai terdengar suara-suara yang begitu riuh di keheningan malam. Suara keroncong yang berasal dari dalam perut yang menuntut haknya. Lalu ku beranjak dari kamar menuju dapur untuk mengecek kulkas. Ada bermacam-macam buah, ah masa buah? Dietnya besok lagi, emi nyemek enak nih, batinku. Mau masak emi juga mager, orang rumah juga sudah pada tidur.

Keluar aja deh sambil nyari angin. Langsung aku keluar rumah menuju parkiran motor, ku-stater motor langsung gas menuju bakul bakmi langgananku.

"Huh, sampai juga," keluhku ketika sampai di Warung Bakmi. Terlihat Bu Kemijem yang sedang mencuci piring. Melihat kedatanganku, Bu Kemijem pun berhenti mencuci piring.

Bu Kemijem menghampiriku sambil membawa menu. "Buk, mi rebus nyemek pedas banget yaaa," ucapku kepada Bu Kemijem, sambil kumakan kerupuk yang disediakan di atas meja.

"Minumnya apa Mas?" ucap Ibu penjual. "Jeruk panas tanpa gula," jawabku. Ibu penjual langsung menuju dan bergegas untuk memasakkan pesananku.

Aku meletakkan tas di atas meja sambil mengeluarkan headset dan langsung menyetel playlist Spotify-ku. Pesananku datang, sepiring mi nyemek dengan tambahan rajangan lombok yang banyak. Aku menikmati sesuap demi sesuap mi rebusku. Di tengah makan malamku, aku dipaksa menoleh oleh suara anak kecil.

"Oom... kasih uang buat makan Oom..." Kulihat seorang anak kecil. "Oom..." katanya terus menerus sambil mengadahkan tangannya ke arahku.

"Makan ya? Kalau makan aku mau bayarin. Aku nggak mau ngasih uang," jawabku. Anak kecil itu hanya melihatku lalu berlari ke depan warung dan menghilang dari pandanganku. Aku kebingungan, mungkin dia nggak jadi makan karena dia pengen uang sedangkan aku nggak mau ngasih, lalu dia lari.

Tapi tak berapa lama dia kembali lagi bersama 6 orang anak lainnya yang kira-kira seumuran. Aku kaget, "Waduhhh!" sambil tertawa wkwk. Si Ibu penjual juga kaget tapi lalu menahan tawa melihat banyaknya anak di warungnya, terutama raut wajahku yang terlihat sangat berubah sedikit panik. Aku membalikkan badan membelakangi si Ibu penjual. Mencuri lihat ada berapa uang di dompetku sambil mengira-ira berapa habisnya makan malamku dan rombonganku ini. Masih 200 ribu, kelihatannya masih aman, batinku.

"Sini, kalian duduk sini," kataku kepada mereka sambil menunjuk kursi panjang yang juga aku duduki. Mereka mendekat lalu duduk di samping dan hadapanku. Anak-anak itu memesan makanan dan minumannya. Dengan kompak mereka memesan nasi goreng dan es teh, setelah itu mereka duduk bergerombol. Jumlahnya sekarang 7 orang, ditambah aku jadi 8. Aku sudah siap kalau uangku nggak cukup, aku bisa meninggalkan KTP atau SIM-ku di warung ini.

Ibu penjual datang membawa pesanan mereka. "Ini, habiskan. Jangan sampai nggak habis," kata si Ibu penjual kepada anak-anak itu. Akhirnya pesanan mereka datang. Anak-anak itu makan dengan lahapnya seakan-akan belum pernah makan nasi goreng sebelumnya. Aku miris melihatnya tapi aku pun lalu meneruskan juga makan malamku.

"Cita-cita kalian apa?" tanyaku. "Emang cita-cita itu apa sih Kak?" tanya mereka polos karena masih kecil. "Cita-cita adalah suatu impian dan harapan seseorang akan masa depannya," jawabku. "Intinya besok kalau sudah gede mau jadi apa? Jadi Power Rangers, Ultraman, atau apa?" lanjutku sambil tertawa wkwk.

Merekapun ikut tertawa sambil menanyakan, "Emang bener Kak?" "Wkwkw enggak-enggak. Besok mau jadi apa contohnya? Jadi presiden, menteri, polisi, dokter, pilot, guru, dan lainnya gitu."

"Aku mau jadi polisi," ucap salah satu anak dengan mantap, "biar bisa nangkepin penjahat." "Aku mau jadi dokter biar bisa nyembuhin orang-orang sakit." "Oooo... kalau gitu aku pengen jadi guru biar anak-anak nggak mampu bisa sekolah gratis," kata mereka dengan semangat sambil beberapa ikut-ikut menjawab sama, "saya juga mau jadi polisi, dokter, dan guru."

"Pinter... tapi kalian harus belajar yang semangat biar cita-cita kamu tercapai. Oke!!!" kataku sambil meminum jeruk hangatku. "Oke... siap Kak!!!" jawab mereka dengan semangat.

"Heh, dengerin itu Om-nya ngomong!" kata Ibu penjual yang mendekat sambil mengambil piringku yang kosong. Beberapa anak mengiyakan, dan beberapa anak lainnya hanya mengangguk.

"Ya Allah, selamatkan masa depan mereka..." kataku dalam hati. Aku menghabiskan minumku lalu membayar semua pesananku dan anak-anak itu. Yak, aku lalu berpamitan kepada Ibu penjual dan anak-anak itu.

Di atas motorku menuju perjalanan pulang ke rumah, aku masih mengingat kejadian tadi sambil tersenyum dan tertawa. Bahagianya bisa berbagi. Jadi berbagilah lalu berbahagialah ❤️

1 Komentar

Lebih baru Lebih lama

Popular Items

PECEL SAYUR