Memaafkan dan Kembali ke Fitrah

 

Halo, saya Ade.

Kalian tim Lebaran hari ini atau besok, nih? Kalau saya dan keluarga ikut pemerintah besok. Buat yang sudah Lebaran hari ini, gimana? Nastar, opor, ketupat, dan rendang sudah aman di perut? Mantap!

Khusus buat kalian yang ingin tampil berkelas sebagai "Mas-Mas" atau "Mbak-Mbak" Jawa sejati, ini tutorial singkat cara sungkem yang halus:

thok... thok... thok... ttheeeesss..

Sepisan, Kula ngaturaken sembah pangabekti wonten ing ngarsa panjenengan. (Pertama, saya menghaturkan sembah bakti yang setulus-tulusnya kepada Anda).

Kaping kalih, Kula nyuwun agunging pangaksoma awit sedaya kalepatan kula, ingkang dipunsengaja menapa mboten, mugi panjenengan kersa maringi pangapunten. (Kedua, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas semua kesalahan saya, baik yang disengaja maupun tidak, semoga Anda berkenan memberikan pintu maaf).

Kaping tiga, Kula nyuwun donga pangestu, mugi sedaya gegayuhan kula dipunparingi gancar, saged dados putra ingkang migunani, saha saged enggal dipunpanggihaken kaliyan jodhonipun. (Ketiga, saya memohon doa restu, semoga semua cita-cita saya diberikan kelancaran, bisa menjadi anak yang bermanfaat, serta bisa segera dipertemukan dengan jodohnya).

Wkwkwk, tapi kita lagi nggak belajar bahasa Jawa halus ya! Aku sendiri pun sebenarnya belum begitu memahami dan menguasai bahasa Jawa yang halus. 

Bahkan, aku punya pengalaman lucu sewaktu baru pindah ke Jogja. Dulu, aku pernah bertemu dengan seorang Simbah yang matanya habis operasi katarak. Dengan "sok ide"-nya, aku bertanya: "Mbah, matamu kenopo?"

Eh, malah dijawab dengan nada tinggi: "Matamu, matamu! Bocah kok ra ngerti tata krama!" (Wkwkwk!)

Aku seketika bingung, pikirku: "Salahku apa ya?" 

Ternyata, kata "Matamu" itu termasuk bahasa yang kasar dan tidak patut digunakan untuk bertanya kepada orang yang lebih tua atau sepuh. Seharusnya, kalimat yang lebih tepat dan sopan adalah: "Mripate panjenengan pripun?"

Tapi tema tulisan kali ini tentang Lebaran dan memaafkan, bukan tentang bahasa Jawa ya, hehehe.

Cepat sekali ya, Ramadan sudah selesai. Sedih rasanya ditinggal bulan suci ini. Selalu terpikir, kalau seandainya Ramadan itu lebih dari sebulan, rasanya saya bakal tetap senang-senang saja menjalaninya, hehehe.

Lebaran selalu identik dengan keriuhan suara takbir yang bersahutan, deretan pesan WhatsApp yang penuh emoji, hingga jabat tangan yang erat. Namun, seiring berjalannya waktu, ada sebuah ruang sunyi di dalam hati yang justru menjadi tempat paling jujur untuk merayakan kemenangan.

Bagi saya, memaafkan adalah keputusan untuk berhenti membawa beban masa lalu ke masa depan. Seringkali, kita merasa harus menunggu permintaan maaf datang untuk bisa melepaskan amarah. Padahal, kedamaian adalah hak kita sendiri. Saya memilih untuk memaafkan mereka yang (mungkin) pernah menggores luka, meski tanpa kata-kata, meski tanpa pertemuan fisik.

Begitu juga sebaliknya. Di sela-sela doa, saya menyelipkan permohonan maaf untuk setiap khilaf yang pernah saya perbuat baik yang disengaja maupun yang luput dari ingatan. Saya meminta maaf kepada semesta dan kepada hati-hati yang mungkin pernah merasa tersakiti oleh sikap atau ucapan saya.

Namun, di atas segalanya, ada satu sosok yang seringkali luput untuk kita rangkul: diri kita sendiri.

Di momen Idulfitri ini, saya percaya bahwa orang pertama yang berhak menerima pengampunan adalah diri sendiri. Seringkali kita begitu mudah memaafkan orang lain, namun begitu keras menghakimi diri atas kegagalan, keputusan yang salah, atau waktu yang terbuang di masa lalu. Padahal, bagaimana kita bisa tulus menebar damai jika di dalam batin masih ada peperangan melawan diri sendiri?

Memaafkan diri sendiri bukan berarti memaklumi kesalahan, melainkan menerima bahwa kita adalah manusia yang sedang belajar. Jadi, mulailah dengan memaafkan diri sendiri. Berdamailah dengan sosok yang ada di cermin itu, peluk erat segala kekurangannya. Setelah batin sendiri sudah tenang, barulah kita meminta maaf atas apa pun yang berhubungan dengan orang lain.

Pada akhirnya, esensi dari "Kembali ke Fitrah" adalah tentang bagaimana kita membersihkan ruang batin kita sendiri. Selamat merayakan hari kemenangan. Mari kita terus menebar kebaikan, menjaga ketenangan hati, dan tetap menjadi pribadi yang memilih untuk tidak bereaksi negatif terhadap apa pun yang terjadi di luar sana.

Selamat merayakan kemenangan di Hari Raya Idulfitri. Mohon maaf lahir dan batin ya untuk semuanya. Mari kita saling melepaskan beban di hati kalian sudah saya maafkan, dan saya pun memohon pintu maaf dari kalian semua. Selamat berlebaran!

 Pokoknya kembali ke nol, kosong-kosong ya semua, hehehe!

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Popular Items

PECEL SAYUR