Perkara Makan Siang

Wah, lama sekali tidak bercerita diKata-Katanya Ade" ini. Langsung bahas yang ringan-ringan saja ya, kita.Gasss! 


Jarum jam menunjuk tepat pada angka 12.30 Waktu Makan siang. Saya sedang memakan gorengan dengan lahap, berpadu dengan suara kunyahan yang berderak nyaring. Saya, Irfan, dan Ovan duduk dipojok kantin sambil menunggu soto yang saya pesan. Mengamati seorang yang sedang melahap seporsi mangut lele dengan lahapnya. Matanya terpejam menikmati setiap suapan.


"Lihat tuh, lahap sekali ya," celetuk saya, sambil menyikut lengan Irfan.


Saya hanya tersenyum tipis, mataku tetap terpaku pada orang itu. "Aku enggak ngerti kenapa banyak yang suka lele. Baunya amis banget," Menghirup bau lele bayangin aja udah geli. 


Saya menggeleng pelan. "Aku cuma enggak suka lele aja," 


"Ah, masa sih? Padahal enak banget," sahut Irfan dan Ovan sambil menyodorkan sepotong lele goreng pada Ade. 


Saya dengan cepat menolak. "Nggak, makasih, Fan. Aku beneran nggak suka".


 Irfan dan Ovan saling pandang, lalu tertawa bersama. "Kamu tuh ya, De, aneh banget. Makanan seenak ini aja enggak mau. Lele itu banyak proteinnya, bagus buat pertumbuhan. Selain itu, lele juga murah meriah," goda Irfan dan Ovan.


Tiba-tiba, perut Ade keroncongan dan pas soto yang dipesan Ade datang.


Di sisi lain, saya ditanya oleh teman saya yang baru datang di kantin, "Wah, kamu sudah lulus S2 ya? Wah, buat apa sih kuliah ngabisin duit?. Kalau saya sih mending buat ini buat itu, Saya tidak suka kuliah, ngapain kuliah? Mending ini mending itu". Tapi Saya suka dan bahagia kok telah menyelesaikan Studiku " Timpalku singkat. 


Sedangkan teman saya yang bilang seperti itu lanjut dan asyik berdiskusi tentang motor yang diidamkan. Mereka begitu bersemangat membahas spesifikasi, desain, dan harga motor tersebut. Ada yang bahkan rela menabung berbulan-bulan bahkan utang piutang untuk bisa memiliki dan memodifikasi motor idamannya. Mereka begitu antusias dan bahagia dengan pembahasannya. 


Kalo kata pak fahrudin faiz, bersikaplah terbuka, akomodatif, dan tidak kaku. Kalau ada orang punya pandangan berbeda versi mereka sendiri, ya silahkan. Kita harus bisa menerima perbedaan-perbedaan. Itu namanya rasionalitas akomodatif. Rasionalitas egoistis mesti dinaikkan kelasnya menjadi rasionalitas reflektif. Kalau mungkin, Naiklah satu kelas lagi menjadi rasionalitas akomodatif.  Jadi kita tidak sekedar mencari kebeneran versi kita sendiri, tapi juga bisa menerima kebeneran versi orang lain. Kita tidak sekedar merasa benar sendiri. 


Nah, saya berpendapat bahwa kebahagiaan tidak bisa diukur dengan satu standar, Yang bikin kita bahagia, belum tentu bikin orang lain bahagia. Tak perlu memaksa orang lain menyukai yang kita suka. Dan yang bikin kita sedih, belum tentu bikin orang lain sedih. Tak perlu memaksa orang lain membenci yang kita benci.


Kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat personal dan subjektif.


Tidak semua harus mengikuti jalan yang kita pilih. Kamu tidak akan bahagia jika tolak ukurmu adalah kenikmatan orang lain. Asekkk boleh juga gak tuh...

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Popular Items

PECEL SAYUR