Halo! Saya Ade. Kembali lagi iseng-iseng menulis, hehe.
Mau cerita-cerita aja, sebenarnya.
Oh ya, kemarin saya baru saja ikut kajian di Festival Literasi Jogjakarta yang bertempat di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta.Temanya Filsafat dan Kepenulisan, dengan narasumber idolaku Bapak Dr. Fahrudin Faiz. Pembahasan tentang filsafat dalam penulisan… wah, filsafat, ya, itu penting banget sebenarnya. Isinya luar biasa. Tapi, enggak usah dibahas dulu, ya. Bisa bikin pusing, saya juga belum paham sepenuhnya, wkwkwk. Kita bahas yang ringan-ringan dulu aja, ya.
Tentang menulis.
Dulu saya pikir, menulis itu harus tertata, harus bisa membuat puisi, cerpen, jurnal, atau tulisan yang panjang yang disukai banyak orang. Padahal, Sebenarnya menulis bisa jadi cara untuk mencurahkan apa yang kita rasakan, apa pun itu. Gak harus menulis tentang topik-topik yang sedang tren, atau membahas soal trading dan investasi ala Timothy, atau bahkan rudal Rusia dan Iran yang entah bagaimana bisa sampai ke Jogja juga dibahas, wkwkwk. Gak harus begitu.
Menulis apa aja. Misalnya, habis makan mi ayam atau menulis apa yang dirasain pun bisa ditulis. Atau menulis caption di Instagram, atau tulisan-tulisan lain di media sosial. Kadang kita berpikir, “Nanti kalau dikatain alay gimana, ya?” atau “Kalau tulisanku jelek gimana?”
Tapi ya, biarin aja. Wong yang namanya juga masih belajar. Dan yang lebih penting, seperti judul yang saya tulis di atas: Menulis untuk diri sendiri. Kalau kata beliau Pak Faiz: Menulis itu yang penting nulis. Mau punya ide bagus atau gagasan yang hebat dan cemerlang kalau gak dituangkan dalam penulisan ya gak ketulis.
Ya pokoknya yang penting apa-apa tulis aja.
Ini sebenarnya lebih ke koreksi untuk saya sendiri. Saya ini tipe menulis yang menulis berdasarkan mood. Tapi ya itu… heheh, kalau menunggu mood terus, malah akhirnya lupa mau menulis apa. Apa yang ada di pikiran keburu hilang dan gak sempat ditulis.
Pokoknya kudu jadi Polisi Opo opo ditulisi hehe
Selamat menulis Yaaaa!