Kendalikan yang bisa kita kendalikan

 

Halo Saya Ade!

Kembali lagi di halaman suka-sukanya Ade. Kalau suka, ya suka! Kalau enggak, ya wajib suka! Halo, pada sehat kan kalian? Wajib sehat dong!

Langsung aja, ya!

Oke, jadi gini ceritanya. Kemarin saya lagi ngobrol santai dengan teman. Obrolan awalnya cuma soal cuaca, demo di Pati, bahkan sampai bahas perang dunia ketiga. Dan eh, tiba-tiba dia nyeletuk topik yang membuat saya berhenti menghirup aroma inhaler Hong Thai hijau berlogo ayam jago atau burung phoenix ini.

Teman: "De, kita itu kalau uplod story atau upload sesuatu di sosial media jangan yang senang-senang banget. Nanti ndak semua orang ikut senang, ada yang malah iri."

Saya: "Benar, sih. Tapi daripada upload cerita sedih atau susah, bukannya orang malah jadi males lihat ya?"

Teman: "Iya, kalau sedih ada yang simpati, ada juga yang makin senang karena ngeliat kita sedih. Makanya, biasa-biasa aja."

Saya: "Biasa-biasa aja? Yang bagaimana, ya? Kalau semua orang begitu, media sosial isinya membosankan dong. Tapi kan tujuan orang mengunggah story atau feed di sosial media itu berbeda-beda. Ada yang cuma mau dokumentasi atau menyimpan kenangan di media sosial, bahkan saya melakukan itu agar tidak memenuhi galeri atau memori HP."

Teman: "Tujuanmu mengunggah cerita itu pamer, kan? Ada rasa ingin menunjukkan ke orang-orang, kan!"

Saya: "Ya... pasti itu, tapi tidak seratus persen. Lebih ke senang saja mengunggah dan mendokumentasikan agar tersimpan di media sosial."

Teman: "Walau kita tidak niat pamer, orang bisa tetap berpikir begitu."

Saya: "Kalau tujuan kita tidak seperti yang orang pikir, berarti aman dong?"

Teman: "Aman, sih. Tapi tidak semua orang selalu berpikir sesuai kemauanmu."

Saya: "Ya, tapi kan itu di luar kendali kita! Jadi, biarkan saja dong orang mau berpikir atau berpendapat apa saja."

Siapa sih yang tidak mau memiliki kendali atau kontrol? Kalau saya sih pasti mau! Namun, pada akhirnya tidak semua hal bisa kita kontrol.

Seperti yang pernah saya baca di buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring, ada sebuah prinsip bernama dikotomi kendali. Manusia hanya bisa memegang kendali atas hal-hal seperti pikiran, pertimbangan, pendapat, dan tindakannya sendiri. Sisanya, seperti cuaca, kondisi ekonomi, dan juga masa depan, ada di luar kendali.

Seperti kata Pak Fahrudin Faiz, tindakan orang yang membuat kita marah, itu adalah kuasanya dia. Tapi, kita jadi marah atau tidak, itu ada dalam kuasa kita. Kita tidak bisa mengontrol orang, tapi kita bisa mengontrol respons kita.

Kita tidak bisa mengontrol pendapat orang lain, isi hati orang lain, isi pikiran orang lain, sikap orang lain, dan masih banyak lagi yang di luar kontrol kita, bahkan kendali kita. Yang bisa kita kontrol adalah bagaimana kita merespons terhadap hal-hal yang tidak bisa kita kontrol. Jangan memaksakan diri mengontrol yang tidak bisa kita kontrol.

Fokuslah pada hal-hal yang bisa kamu kontrol dan dalam kuasa kita. Selebihnya, bukanlah urusanmu, agar hidup kita lebih tenang.

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Popular Items