Hallo, saya Ade.
Hai, Slurs! Gimana kabarnya di tahun 2026 ini? Wajib happy dan semangat, ya! Balik lagi di Katanyaadee. Mau sedikit cerita, waktu itu aku makan mie ayam nih di Portugal. Portugal? Yoi, Portugal. Langsung aja, ya!
Kebetulan waktu menunjukkan sekitar jam 18.30 WIB, ditambah cuacanya lagi gerimis syahdu. Tiba-tiba di kepala langsung muncul bayangan semangkuk mie ayam dengan kuah kaldu yang gurih dan uap panas yang kena muka. Beuh, langsung aja aku gas motor biru kesayanganku cari yang anget-anget!
Pikiranku langsung tertuju ke Mie Ayam Portugal. Kenapa Mie Ayam Portugal? Karena sebelumnya aku sempat lewat sana, tapi kebetulan tutup. Jadi, kita coba GAS KE LOKASI sekarang! Setibanya di sana, tanpa babibu aku langsung pesan semangkuk. "Banyakin sawinya ya, Pak!" pintaku semangat. Soal minum? Tenang, aku tetap setia sama tumbler andalanku yang selalu dibawa ke mana-mana, hehe.
Nggak butuh waktu lama, semangkuk mie ayam porsi bar-bar sudah tersaji di depan mata. Baru aja aku selesai ritual menuangin saos sambal, lada, tidak lupa dengan sedikit kecap sampai merah membara, tiba-tiba... DEG! Aku baru ingat kalau nggak bawa uang cash sama sekali! Wkwkwk.
Seketika aku celingukan lihat kanan-kiri, nyari barcode QRIS. Tapi kok nggak ada? Waduh, padahal mie-nya sudah siap dieksekusi! Langsung kutanya ke bapaknya, "Hehe, Pak... ini bisa bayar pakai QRIS nggak ya?"
Bapaknya jawab, "Waduh Mas, belum bisa. Bisanya transfer aja."
Seketika langsung ngucap syukur, "Alhamdulillah!" wkwkwk. Masih bisa transfer. Bapaknya sempat nyeletuk, "Kalau nggak bawa uang, bayarnya besok-besok lagi aja Mas, kapan-kapan aja kalau ke sini lagi."
Langsung saya jawab, "Tenang Pak, di m-banking saya uangnya banyak, kalau buat beliin orang sekampung bisa, wkwk." Kami pun sama-sama ketawa.
Sambil makan, aku nyeletuk, "Kenapa namanya Portugal, Pak? Karena seneng Ronaldo, pernah tinggal di sana, atau istrinya orang Portugal? Wkwkwk."
Bapaknya jawab, "Bukan Mas. Dulu waktu saya kerja di Jakarta, ada warung mie ayam namanya Portugal yang rame banget. Pernah suatu kali saya makan di sana tapi lupa bawa uang. Zaman dulu kan belum ada transfer kayak sekarang, tapi yang punya santai banget bilang: 'Besok-besok aja bayarnya kalau ke sini lagi'.
Terus saya bilang, 'Saya ninggal KTP ya, Pak?' Tapi yang punya bilang, 'Gak usah Mas, saya percaya Masnya bakal balik lagi.' Saya dulu mikir, di Jakarta ternyata masih ada orang baik yang percaya sama orang yang baru pertama kali beli. Nah, karena itu Mas, saya janji kalau saya balik ke kampung halaman dan buat usaha mie ayam, bakal tak namain Mie Ayam Portugal. Makanya sekarang kalau ada orang makan tapi nggak bawa uang, saya suruh bayar kapan-kapan aja. Meskipun ada yang nggak balik lagi, saya pikir mungkin mereka lupa. Toh setelah itu mie ayam saya malah makin laris dan rezeki ada aja."
Di tengah obrolan kami, datang seorang bapak-bapak memakai mantol dan pakaian yang sudah lusuh, basah kuyup setelah kehujanan. Beliau langsung memesan mie ayam satu dan teh panas. Sambil menunggu pesanan datang, si bapak cerita kalau tadi setelah pulang kerja, di jalan beliau habis kejeglong (masuk lubang). Padahal, beliau sudah bertahun-tahun lewat jalan itu, mungkin sudah beratus atau beribu kali buat berangkat kerja. Tapi ya itu, ternyata biarpun sudah hafal jalan di luar kepala, kalau lagi lengah bisa tetap kejeglong juga. Intinya, kita harus tetap hati-hati dan Ojo Dumeh.
Setelah menghabiskan mie ayamku, aku beranjak untuk membayar dan sekalian membayarkan mie ayam serta teh panas bapak tadi. Saat membayar, uangnya saya lebihkan untuk Bapak penjual. Beliau sempat kaget dan bilang, "Lho Mas, kebanyakan ini bayarnya!"
Sambil tersenyum, aku jawab, "Aman aja, Pak!" sambil kasih jempol ke beliau. Beliau pun tertawa, mengucap terima kasih, dan memberikan doa-doa baik untukku. Kemudian, Bapak penjual mie ayam itu berucap ke si bapak yang kehujanan tadi, "Sudah dibayar sama Masnya ini ya, Pak."
Wah... seketika bapaknya langsung menoleh, mengucap terima kasih berkali-kali, dan memberikan banyak sekali doa-doa baik untukku. Bagiku, harga semangkuk mie ayam dan teh panas mungkin nggak seberapa, padahal bagi saya, doa baik dan pelajaran hidup dari cerita Bapak penjual mie ayam dan Bapak tadi jauh lebih mahal harganya.
Sore itu aku pulang nggak cuma dengan perut kenyang, tapi juga dengan hati yang penuh. Ternyata benar kata bapaknya, kebaikan itu nggak akan bikin kita rugi, justru malah buka pintu rezeki yang lain.