Psikolog Mahal, Makanya Ada Kursi Besi Indomaret

Hallo Saya Ade

Seperti biasa, saya mau cerita.

Kemarin saya sempat mampir ke Indomaret buat beli minum sekalian narik uang di ATM. Pas masuk, anjayyy... antreannya panjang banget! Feeling-ku sih, orang-orang pada milih ke sini karena bisa sekalian belanja, dan yang paling penting: ada tulisan "Parkir Gratis" yang terpampang nyata.

Tapi ya gitu, kadang tulisannya doang yang terpampang bebas, pas mau keluar eh tiba-tiba muncul "abang-abang" sakti yang nagih, wkwk.

Tapi tenang, hari ini kita lagi nggak bahas konspirasi tukang parkir ya. Atau mau bahas soal Epstein aja biar seru? Wkwkwk, enggak deng, canda! Janganlah, terlalu dark. Lagian saya juga belum tamat baca teorinya atau nonton di Netflix (Jeffrey Epstein: Filthy Rich), takut nanti malah ngawur. Mending balik ke topik yang lebih enteng aja, biar bacanya juga bisa sambil santai.

Ngomongin soal santai, belum lama ini saya sempat baca sebuah statement di TikTok: "Psikolog mahal, makanya Indomaret nyediain kursi besi buat bengong." Saya yakin kalimat ini pasti sering juga muncul di beranda media sosial kalian, entah itu di TikTok, X (Twitter), atau Instagram.

Dan bener aja, pas saya lihat kolom komentarnya, ternyata rame banget! Banyak yang relate dan setuju sama hal itu. Entah mereka cuma buat tujuan konten semata, atau memang benar-benar berangkat dari problema pribadi masing-masing—termasuk saya.

Saya juga sering banget mampir ke Indomaret cuma buat beli minuman dingin, terus langsung saya habisin sambil duduk dulu di kursi besi. Narik napas bentar sambil ngelihatin jalanan yang lalu-lalang dan kesibukan orang-orang.

Di momen itu, saya malah dapet banyak hal buat disyukuri. Saya melihat ada pengamen yang menggendong anaknya, bapak-bapak tua yang masih semangat mendorong gerobak cilok, sampai pemulung yang lagi sibuk mengais kotak sampah. Di sisi lain, ada juga yang lewat pakai mobil mewah atau motor bagus. Bahkan ada yang cantik juga lewat—nah kalau yang ini sih mata saya otomatis melirik. Eits, tapi tenang, cuma sekali lirik kok berarti rezeki! Kan katanya kalau sudah kedip baru dosa, wkwkwk. Canda ya!

Pas lagi asyik merhatiin suasana jalanan, tiba-tiba ada seorang mas-mas keluar dari dalam Indomaret. Di tangannya dia membawa kopi Starbucks kaleng dan rokok Marlboro. Kebetulan kursi besi di sebelah saya memang lagi kosong, dan dia menghampiri sambil bilang dengan sopan, "Klamit njih, Mas. Tak duduk di sini."

Saya mengangguk sambil tersenyum, "Monggo, monggo, Mas."

Baru saja si Mas duduk dan membuka kaleng kopinya, tiba-tiba dia menyodorkan bungkus rokoknya ke arah saya.

Masnya: "Rokok, Mas?"

Saya: (Sambil mengangkat botol minuman saya) "Monggo, Mas. Enggak ngerokok saya, Mas. Matur nuwun. Pulang kerja, Mas?"

Masnya: "Iya, Mas. Baru pulang kerja. Masnya sendiri sibuk apa ini?"

Saya: "Ya begini, Mas... menyibukkan diri, hehe," jawab saya sambil tertawa. "Emang sering mampir duduk di kursi Indomaret gini, Mas?"

Masnya: "Iya, Mas, sering. Kebetulan istri saya baru melahirkan, jadi saya nggak berani ngerokok di rumah, wkwk."

Saya: "Oalah, pantesan, Mas!" jawab saya sambil ikut tertawa.

Tiba-tiba si Masnya balik tanya, "Lha Masnya sendiri uwis rabi (menikah) belum?"

Saya: "Wkwkwk, belum, Mas! Doain ya, Mas, segera menyusul!"

Masnya: "Lha nunggu opo meneh (nunggu apa lagi), Mas? Lak wis kerjo to (kan sudah kerja)?"

Saya: "Alhamdulillah sudah, Mas. Ya tinggal nunggu jodohnya aja ini, doain ya Mas-s-s-s!" jawab saya sambil tertawa lepas.

Masnya: "Neng seng naksir lak okeh to mas? Tinggal milih!"

Saya: "Wkwkwk iyo Mas, bener banget! Gari milih sing jos dan terbaik iki. Nek dibariske iso sak kelurahan.

Masnya: "Aamiin, Mas. Segera pokoknya, sing penting yakin!"

Saya pun lanjut menggocek pertanyaannya biar nggak makin dalam bahas rabi, wkwkwk. "Dulu awalnya sering mampir Indomaret gini dari kapan, Mas?"

Masnya: (Sambil menghisap rokoknya dalam-dalam) "Wah, dari zaman nganggur dulu, Mas. Pas masih daftar-daftar kerja itu lho. Kalau pusing, sebelum pulang nyempetin rokokan dulu di sini. Dulu rokok saya masih ngecer, minumnya pun Kopi Golda yang murah. Baru sekarang ini aja karena habis gajian, rokoknya Marlboro sama minumnya Starbucks, wkwkwk!"

Saya: "Wah, keren Mas. Tapi saiki kan uwis gajian, udah minum Starbucks kaleng sama Marlboro juga, kenapa nggak di cafe sekalian aja, Mas?"

Masnya: (Tertawa sambil geleng-geleng) "Wah, larang, Mas! Cafe sak gelas regone iso 25–50 ewu. Nek tak nggo tuku kopi sasetan, iso tak nggo adus kopi aku, wkwkwk! Yo iki, rokok enak karo ngombe enak mergo gajian."

Saya: "Wkwkwk, jos Mas!"

Nggak lama setelah itu, si Masnya matiin rokoknya, berdiri, lalu pamit duluan sambil nyengir.

Masnya: "Duluan ya, Mas. Wis digoleki bojoku, selak nesu engko, wkwkwk!"

Saya: "Wkwkwk, siap Mas! Monggo, salam nggo keluarga!"

Mungkin bener kata orang-orang di TikTok atau media sosial lain: psikolog itu mahal, makanya ada kursi besi buat bengong. Akhirnya saya tersadar kalau kursi besi di depan Indomaret ataupun minimarket lain ini adalah "ruang jeda" yang paling jujur.

Di kursi yang sama, mungkin pernah ada orang yang duduk sendirian sambil menangis, ada yang melamun, atau justru merayakan kebahagiaan di kursi besi ini.

Kita nggak selalu butuh ruangan AC yang mewah buat merasa lebih baik. Kadang, kita cuma butuh duduk gratis, bengong sambil minum minuman dingin, sambil ngelihatin situasi jalanan, merhatiin kegiatan orang-orang yang lewat, dan ngobrol ringan sama orang nggak dikenal buat sekadar narik napas dan ngerasa lega lagi.

 

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Popular Items

TOMAT